Web Blog Pertama Penyedia Informasi Maluku Tenggara

Direktur Utama PT Maritim Timur Jauh, David Tjioe akhirnya mengembalikan gelar adat “Dir U Ham Wang” beserta seluruh atributnya yang diberikan oleh raja-raja di Kepulauan Kei kepadanya, Sabtu (17/10) lalu.

Tual – Direktur Utama PT Maritim Timur Jauh, David Tjioe akhirnya mengembalikan gelar adat “Dir U Ham Wang” beserta seluruh atributnya yang diberikan oleh raja-raja di Kepulauan Kei kepadanya, Sabtu (17/10) lalu.

Pengembalian tersebut dilakukan David Tjioe kepada Bupati Maluku Tenggara (Malra), Andre Rentanubun di kantor bupati, Senin (19/10).
Rentanubun kemudian menyerahkan atribut adat tersebut kepada koordinator pendemo, A Tamher di jembatan Watdek.

Kendati demikian, saat pengembalian gelar adat tersebut tidak tampak wajah para raja yang saat penganugerahan gelar adat kepada David Tjioe hadir dengan pakaian kebesaran.

Usai pengembalian gelar adat tersebut, ribuan warga yang sejak Sabtu (17/10) telah memblokade Jembatan Watdek dengan memasang sasi langsung mencabutnya, sehingga arus lalu lintas antara Kota Tual dan Kabupaten Malra telah normal kembali.

Pihak Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Malra, Pemerintah Kota (Pemkot) Tual juga telah bersepakat untuk membangun monumen untuk mengenang perjuangan warga Kota Tual dan Kabupaten Malra menegakan eksistensi adatnya.

Sementara itu, Forum Komunikasi Anak Kei Nuhu Evav Kota Ambon mendesak David Tjioe segera meninggalkan Kepulauan Kei, begitu juga dengan perusahaannya untuk segera menghentikan operasinya.

Desakan tersebut merupakan salah satu dari tiga tuntutan yang diajukan Forum Komunikasi Anak Kei Nuhu Evav Kota Ambon saat melakukan demonstrasi ke Kantor Gubernur Maluku, Senin (19/10).

Saat bertemu dengan Sekda Maluku Ros Far Far, para pendemo langsung menyatakan tiga tuntutan mereka yang harus dilaksanakan oleh Pemerintah Provinsi (Pemprov) Maluku yaitu pertama, menuntut Pemprov Maluku menolak gelar yang diberikan kepada David Tjioe; kedua, menolak 15 butir kesepakatan yang telah ditandatangani bersama antara raja-raja Kei Besar dan Kei Kecil sebab 98 persen diantaranya menguntungkan PT Maritim Timur Jauh serta masyarakat adat Kei meminta untuk mengusir David Tjioe bersama dengan PT PT Maritim Timur Jauh dari wilayah tersebut.

Ratusan massa Forum Komunikasi Anak Kei Nuhu Evav Kota Ambon yang dipimpin M Nahwan Matdoan sebelum berdemonstrasi di Kantor Gubernur Maluku, juga sempat menggelar mimbar bebas di depan Mapolsek Sirimau.

Dalam orasinya Matdoan menegaskan 22 raja yang menandatangani kesepakatan dengan David Tjioe dan memberikan gelar adat kepadanya telah menjadikan adat sebagai lahan bisnis sehingga masyarakat adat di Kepulauan Kei saat ini menangis sebab adat telah tergadaikan.

“Adat yang diturunkan oleh nenek moyang kita dilecehkan oleh raja-raja kei dan saat ini patut kita namakan mereka sebagai raja-raja amplop,” teriak Matdoan dalam orasinya.

Matdoan juga mengaku selama ini masyarakat tidak menikmati manfaat keberadaan PT Maluku Timur Jauh, sebab yang merasakan hanyalah wartawan yang selama ini selalu menerima “amplop” namun beritanya tidak pernah dipublikasikan; kemudian juga “polisi busuk” yang selama ini memanfaatkan jabatan politik demi saku mereka sehingga menggadaikan adat. Selain itu para jajaran birokrasi di Kabupaten Malra dan kota Tual serta Dewan Adat yang juga memanfaatkan jabatan mereka untuk memperkaya diri serta aparat penegak hukum yang selama ini selalu melindungi aktifitas PT Maluku Timur Jauh.

Matdoan juga meminta kepada Pangdam XVI/Pattimura dan Kapolda Maluku untuk mencopot Komandan Denpom Malra dan Kapolres Malra karena keduanya terindikasi selalu melindungi aktifitas PT Maluku Timur Jauh.

Menanggapi tuntutan yang disampaikan ini, Sekda Maluku Ros Far-Far meminta mereka untuk menyikapi permasalahan ini dengan kepala yang dingin dan tidak perlu melakukan tindakan kekerasan yang dapat menimbulkan tindakan anarkis.

“Jangan sampai ada pihak ketiga yang memanfaatkan kondisi yang terjadi, apalagi kondisi Maluku semakin hari semakin kondusif,” ungkapnya.

Menurutnya, Pemprov Maluku telah menyiapkan tim mediasi untuk menyelesaikan persoalan tersebut jika Pemkab Malra dan Pemkot Tual tidak mampu menyelesaikannya.

“Saya sendiri telah nyatakan dengan jelas kepada Ketua DPRD Kota Tual dan Raja Far bahwa saya menolak dengan tegas pemberian gelar adat ini selaku anak adat asli Kei serta Ketua Itanem Maluku bahkan saya telah jelaskan di media massa bahwa pemberian gelar adat tersebut tidak sah dan ditolak oleh warga adat Kei,” tandasnya.

Tak Pantas

Sementara itu, kecaman terhadap pemberian dan pengukuhan gelar adat kepada Direktur PT. Maritim Timur Jaya, David Tjioe juga diungkapkan Adrianus Buna Renwarin, salah satu keturunan raja Desa Faan, Kecamatan Kei Kecil, Kabupaten Maluku Tenggara.

“Pemberian gelar tersebut sangat melecehkan martabat dari para raja-raja yang ada serta tatanan adat Larvul Ngabal karena sebenarnya direktur PT Maritim Timur Jaya tidak pantas untuk diberi gelar adat tersebut,” ujar Renwarin kepada Siwalima Senin (19/10) di Ambon.

Ia mengaku, masyarakat Malra pasti tidak akan memungkiri bahwa Tjioe juga telah ikut membangun daerah Malra itu dengan investasi yang telah ditanamkannya, namun untuk pemberian gelar tersebut Renwarin menilai sangat berlebihan dan sebenarnya tidak pantas.

“Mungkin kalau diberi gelar sebagai bagian anak adat Malra masih bisa diterima oleh semua pihak. Namun dengan pemberian gelar adat “Dir U Ham Wang” itu, menunjukan bahwa para raja yang menyetujui pemberian gelar itu telah menginjak-injak martabat masyarakat Malra secara keseluruhan,” ungkapnya.

Sebagai salah satu keturunan raja di Malra, ia meminta agar hal ini dapat menjadi pelajaran dan pengalaman yang paling berharga bagi seluruh masyarakat dan khususnya para raja di Malra agar tidak mengulangi lagi masalah ini.

“Jika ingin memberikan gelar adat kepada seseorang maka seharusnya dipertimbangkan dari semua aspek sehingga tidak akan menimbulkan reaksi dari masyarakat,” tandas Renwarin. (S-21/S-32/S-28)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: