Web Blog Pertama Penyedia Informasi Maluku Tenggara

Ribuan warga Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) hingga Minggu (18/10) malam masih memblokir ruas jalan dan jembatan Watdek yang menjadi penghubung kedua wilayah tersebut.

Ambon – Ribuan warga Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) hingga Minggu (18/10) malam masih memblokir ruas jalan dan jembatan Watdek yang menjadi penghubung kedua wilayah tersebut.

Pemblokiran yang telah dilakukan sejak Sabtu (17/10) tersebut mengakibatkan ribuan warga Kota Tual dan Kabupaten Malra terpaksa menggunakan transportasi tradisional perahu “ketinting” untuk beraktivitas.

Aksi pemblokiran dilakukan ribuan warga dalam unjuk rasa menolak pemberian dan pengukuhan gelar adat “Dir U Ham Wang” (berdiri didepan dan membagi) kepada Direktur PT. Maritim Timur Jaya, David Tjioe oleh 22 Raja Ur Siw (Patalima) dan Loor Lim (patasima) di Kota Tual.

Jembatan Watdek berada di perbatasan antara Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) dan merupakan satu-satunya peng¬ubung antar kedua wilayah itu.

Demo tersebut memutuskan arus transportasi menuju pusat pemerintahan kedua daerah tersebut dan warga warga terpaksa menggunakan alat transportasi tradisional “ketinting” atau lebih dikenal di daerah setempat dengan sebutan “palembang”.

Pemblokiran jalan sudah sering dilakukan warga saat berdemo, karena jembatan Watdek letaknya sangat strategis baik menuju pusat pemerintahan Kota Tual dan Kabupaten Malra juga beberapa wilayah luar terutama Bandara Udara Dumatubun.

Satu unit ambulans milik Polres Malra, yang akan melintasi jalan tersebut dari Kota Tual menuju Langgur Kabupaten Malra, terpaksa memutar kembali karena tidak diberi ijin oleh warga untuk melintasi jalan tersebut.

Warga memilih memblokir ruas jalan dan jembatan itu karena tidak ada satupun dari 22 raja Ur Siw maupun Loor Lim yang menemui mereka untuk menjelaskan kronologi pemberian gelar adat kepada Direktur PT. Maritim Timur Jaya, David Tjioe.

Warga merasa kecewa karena pemberian gelar adat “Dir U Ham Wang’ kepada David Tjioe tidak pernah dimusyarawakan dan disosialisasikan kepada warga Kota Tual maupun Malra.

“Tatanan Adat dan budaya masyarakat dua daerah itu yang terkenal dengan sebutan “Larwul Ngabal” telah diinjak-injak oleh para raja,” kata koordinator demo Habib Ahmad Asatri.

Dia mempertanyakan komitmen pemberian gelar adat tesebut karena masih banyak putra Maluku Tenggara yang mempunyai prestasi cu¬kup tinggi dan layak menerima penghargaan.

“Alex Retraubun, M M Tamher, adalah tokoh masyarakat Maluku Tenggara yang banyak memberikan kontribusi dan sudah teruji kemampuan mereka, kenapa tidak diberi gelar. Jangan karena kepentingan sesaat merusak tatanan adat istiadat orang Maluku Tenggara,” ujarnya.

Aksi demonstrasi dan pemblokiran ruas Jalan Watdek juga mengakibatkan pembatalan penerbangan ke Bandara Dumatubun, Minggu (18/10) siang.

Pesawat dari Ambon belum dapat berangkat ke Tual karena persediaan avtur tidak bisa dipasok dari Depot Pertamina di Kota Tual ke Bandara Dumatubun di Kota Langgur.

Kapolres Malra, AKBP Saiful Rahman kepada wartawan menjelaskan, demontrasi tersebut dilakukan secara spontan dan tidak mendapat izin dari kepolisian. “Aksi demonstrasi tersebut dilakukan karena warga memprotes pemberian gelar adat kepada Direktur PT. Maritim Timur Jaya, David Tjioe,” jelasnya. (S-21/S-32)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: