Web Blog Pertama Penyedia Informasi Maluku Tenggara

Langgur,17-9/10——

Spesies Tabob/Penyu Belimbing Dilindungi dengan tujuan memberi nilai tambah  Penjelasan ini disampaikan ketua panitia semiloka Multipihak Pengelolaan semberdaya alam Jan Manuputi kepada Kontirbutor Dishubkominfo disela-sela penutupan Semiloka Multipihak pengelolaan Sumber Daya Alam.

Jan Manuputy dari   kantor WWF-Indonesia Project Kei Island’s – Maluku Tenggara mengatakan,  kehadiran WWF-Indonesia untuk menyatukan persepsi mengelola laut Maluku Tenggara dan semiloka ini  merupakan langkah awal,   namun demikian pihaknya sudah bekerja di masyarakat dengan adanya langkah penataan partisipatif, mencari informasi, serta mendata masalah sosial ekonomi, sehingga semiloka ini merupakan momen untuk WWF -indonesia mencoba menggugah bagaimana perhatian  Pemerintah Daerah dan masyarakat terhadap sumber daya laut.

Menyinggung tentang kerusakan alam laut di daerah ini Manuputty  mengatakan, bahwa pasti ada, dan bukan saja di Kei namun diseluruh Indonesia banyak kerusakan, namun kehadiran WWF-indonesia di Kei karena  Misi WWF-indonesia  yaitu Perlindungan terhadap Spesies langka,  dan tabob adalah salah satu spesias langka dimaksud, dimana Maluku Tenggara spesies tersebut ada  serta  perairan Kei merupakan salah satu tempat makan tabob terbesar untuk kawasan asia pasifik, sehingga selain melindungi tempat bertelur di papua maka jalur dan tempat makan satwa ini perlu pula dilindungi. Sedangkan Tabob dilihat dari pendekatan Budaya, pihaknya mengatakan bahwa WWF-indonesia tidak punya hak untuk mencampuri urusan budaya, namun WWF-indonesia punya kepedulian untuk melindungi spesies-spesies yang terancam punah seperti Tabob di Kei, Orang Utan di Kalimantan, Singa & Harimau  Sumatera dan lain sebagainya.

maka kehadirannya selain melindungi juga mempunyai nilai tambah bagi masyarakat khususnya di Pesisir Barat karena terbukti bahwa sejak dulu Tabob\ atau Penyu Belimbing dimakan masyarakat setempat namun tidak ada perubahan ekonomi, olehnya itu WWF-indonesia  hadir untuk bagaimana merubah menjadi lebih baik tanpa mengurangi nilai/kultur budaya setempat. Menyinggung tentang wujud nilai Tambah, Jan menjelaskan bahwa  konservasi itu harus punya nilai tambah dimana WWF-indonesia, Masyarakat dan Pemerintah Daerah telah mencanangkan Tabob sebagai aikon para wisata Maluku Tenggara sehingga diperlukan dukungan dari semua pihak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Awan Tag

%d blogger menyukai ini: